Selasa, 17 Januari 2012

MUSEUM

MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
Lokasi Museum ini sebelah utara jalan Merdeka, timur Jembatan Ampera, barat Benteng Kuto Besak, selatan sungai Musi. Ukuran bangunan ini, panjang 32 meter, Lebar 22 meter dan tinggi 18 meter yang terletak diatas tanah 1,5 hektar. Bangunan yang dibangun kembali dan dibongkar habis dan memang sebelumnya merupakan lokasi Benteng Kuto Lamo berdiri keraton Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758). Tahun 1821 keraton ini mendapat serangan dari Pemerintah Belanda dan pada tanggal 7 Oktober 1823 oleh Reguting Commisaris Belanda J.L Van Seven House diperintahkan bongkar habis untuk menghilangkan monumental Kesultanan Palembang dan membalas dendam atas dibakarnya loji Sungai Aur oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1811. Bangunan ini selesai tahun 1825 dan selanjutnya dijadikan komisariat Pemerintah Hindia Belanda untuk Sumatera Bagian Selatan sekaligus sebagai kantor Residen. Pada tahun 1942-1945 gedung ini dikuasai oleh Jepang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI kembali dikuasai pemerintah RI, pada tahun 1949 gedung tersebut dijadikan kantor Toritorium II Sriwijaya dan tahun 1960-1974 digunakan sebagai Resimen Induk IV Sriwijaya. Berdasarkan hasil penelitian dari Tim Arkeologi Nasional tahun 1988 ditemukan pondasi batubata dari Kuto Lamo di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar di lokasi tersebut. Menurut perhitungan bangunan Benteng Kuto Lamo dimasa Sultan Mahmud Badaruddin I resmi ditempati pada hari Senin tanggal 29 September 1737 maka balok-balok itu umurnya lebih dari itu. Nama Museum Sultan Mahmud Badaruddin diabadikan untuk mengingat dan menghargai jasa-jasanya.
Sejarah Palembang di Museum Mahmud Badaruddin
Museum ini memiliki peninggalan sejarah mengenai Palembang. Terletak di tepi sungai Musi, museum ini memamerkan berbagai koleksi dari mulai arkeologi, etnografi, biologi, seni dan terutama informasi tentang pengumpulan mata uang (numismatics) sampai studi atau koleksi mata uang. Sultan Mahmud Badaruddin II adalah penguasa Palembang sejak 1803 sampai 1821. Museum ini pernah menjadi istana Kesultanan Palembang Darussalam. Awalnya disebut sebagai Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto Lamo, bangunan ini bersama dengan Masjid Agung Palembang dibangun pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau SMB I. Berbeda dengan bangunan lain dari era yang sama yang menggunakan kayu, istana ini dibangun dengan batu bata. Dengan kedatangan Belanda pada abad ke-17, istana diduduki oleh tentara kolonial. Selama perang Palembang pada 1819, Belanda mendaratkan 200 pasukannya yang ditempatkan di Keraton Kuto Lamo. Setelah Sultan Mahmud Badadruddin II ditangkap dan diasingkan, Belanda menjarah dan menghancurkan bangunan-bangunan di Palembang, termasuk Keraton Kuto Lamo. Pada tahun 1823, Belanda mulai merekonstruksi reruntuhan bangunan.  Reruntuhan Keraton Kuto Lama, dibangun kembali menjadi tempat tinggal komisaris Kerajaan Belanda di Palembang, Yohan Isaac van Sevenhoven. Pada 1842 bangunan itu selesai dan secara lokal dikenal dengan rumah siput. Sejarah memegang peranan penting akan keberadaan bangunan ini ketika Jepang tiba di tahun 1940-an. Dengan Perang Dunia ke-2 yang berkecamuk di Pasifik, bangunan bersejarah ini dimanfaatkan jepang sebagai basis militer mereka. Setelah Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan tahun 1945, bangunan ini menjadi pangkalan militer resimen IV Indonesia: Sriwijaya. Sebagai bangunan yang terlibat dalam begitu banyak peristiwa sejarah, museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan sebuah layar yang menjelaskan berbagai era dalam sejarah. Siapkan kamera Anda untuk mengabadikan bangunan museum dan seluruh keindahan sejarah yang  terlihat dalam bentuk koleksi-koleksi berharga. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan tempat yang sempurna untuk menjelajahi sejarah Palembang. Dari era Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, era kolonial Belanda dan pendudukan Jepang hingga masa awal kemerdekaan Indonesia semua disajikan dalam 368 koleksinya. Arsitektur bangunannya sendiri termasuk unik karena merupakan kombinasi dari masa  kolonial Belanda dan gaya asli istana Palembang.
ISI DARI MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
ARCA BUDHA
Ditemukan di bukit Siguntang oada sekitar tahun 1920-an ini mempunyai ukuran tinggi 277 cm. Pada saat ditemukan tidak dalam keadaan utuh melainkan terdiri dari beberapa bagian. Awalnya yang ditemukan hanya bagian kepalanya saja. Lalu diletakkan di Museum Nasional Jakarta. Beberapa bulan kemudian badannya. Cara pembuatan arca Budha ini mengikuti gaya seni Amarawati.
ACRA GANESHA
            Dewa dari agama Hindu. Dewa ini merupakan dewa perang atau kebijaksanaan yang memerangi kebodohan atau keserakahan manusia. Biasanya di candi diletakkan di ruang bagian timur atau barat tergantung dari arah hadap candi. Ditemukan di situs Pagaralam di jalan Mayor Ruslan. Ukuran patung ini, tinggi 175 cm dan lebar 110 cm. Terbuat dari batu andesit.
ARCA AWALOKITESWARA
            Dibuat dari batu. Ditemukan di halaman belakang rumah Bapak Icoh, Jalan Pendawa, Lemabang, Palembang tahun 1970an. Patung ini berasal dari abad ke 6-8 Masehi. Digambarkan dengan menggunakan mahkota berbentuk silinder dan bagian atasnya mengecil. Patung ini polos tanpa hiasan. Tangan kanannya digambarkan terbuka. Tangan kirinya digambarkan ibu jari dan telunjuk dipertemukan, ketiga jari lainnya terbuka dengan tangan menghadap keluar sebagai pemberi petunjuk.
PRASASTI KEDUKAN BUKIT
            Prasasti ini yang membuktikan keberadaan Sriwijaya. Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan bahwa Raja Sriwijaya dan bernama Dapunta Hyang membawa tentara sebanyak 20.000 orang berhasil menundukkan Minangatamwan (Jambi).
PRASASTI TALANG TUO
            Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikeserta atas perintah Raja Dapunta Hyang.
PRASASTI TELAGA BATU
            Prasasti ini juga dapat disebut prasasti persumpahan. Untuk mendeteksi perkataan seseorang itu jujur atau bohong, bila perkataannya itu bohong maka ia akan mati setelah meminum air dari cucuran batu tersebut. Prasasti ini berbentuk seperti ular kobra dengan tujuh ular kobra. Keberadaan prasasti ini di museum Sultan Mahmud Badaruddin II hanya replikanya saja yang terbuat dari fiber, prasasti yang asli berada di Museum Nasional Jakarta.
REPLIKA RUMAH LIMAS
Bagian-bagian dari rumah limas:
·         Ruangan pagar tengaloong
·         Ruangan jogan
·         Ruangan kekijing
·         Ruangan Gegajah
Dimana semua upacara adat dilakukan.
·         Ruangan kepala keluarga
Terletak sebelah kanan rumah.
·         Ruangan pangkeng pengantin
Terletak kiri rumah.
·         Ruangan Keputuen
Terletak di belakang pangkeng pengantin.
KERAJINAN UKIRAN
Simbol bunga-bunga seperti melati, teratai, bunga matahari, tanjung, daun. Dibedakan atas 3 bentuk:
  • Untuk bangunan rumah limas.
  • Untuk benda-benda pakai atau benda yang menambah keindahan.
  • Untuk benda-benda gantungan dinding.
NAMPAN KUNINGAN
             Untuk membawa atau meletakkab hidangan makanan kepada tamu.
SONGKET
KESENIAN (ALAT MUSIK JIDURAN)
            Musik yang dibawa kaum kolonial yang akhirnya menjadi musik tradisional. Digunakan pada saat upacara pernikahan atau perayaan lainnya.
MANGKUK BESAR
            Hiasan flora.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar