Selasa, 17 Januari 2012

Tentang Indonesia :)

TAMAN SARI YOGYARTA
Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, besrta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang Tegis.
Tamansari adalah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya. Sebenarnya selain Taman Sari, Kesultanan Yogyakata memiliki beberapa pesanggrahan seperti Warungboto, Manukberi, Ambarbinangun dan Ambarukmo. Kesemuanya berfungsi sebagai tempat tetirah dan bersemadi Sultan beserta keluarga. Disamping komponen-komponen yang menunjukkan sebagai tempat peristirahatan, pesanggrahan-pesanggrahan tersebut selalu memiliki komponen pertahanan. Begitu juga hanya dengan Tamansari.
Letak Tamansari hanya sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta disebelahnya terdapat Pasar Ngasem (pasar burung). Arsitek bangunan ini adalah bangsa Portugis, sehingga selintas seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat, disamping makna-makna simbolik Jawa yang tetap dipertahankan. Namun jika kita amati, makna unsur bangunan Jawa lebih dominan di sini. Tamansari dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I atau sekitar akhir abad XVII M. Tamansari bukan hanya sekedar taman kerajaan, namun bangunan ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar (apabila kanal air terbuka).
Bagian - bagian Tamansari:
  1. Bagian Sakral
Bagian sakral Tamansari ditunjukkan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri. Ruangan ini terdiri dari sebuah bangunan berfungsi sebagai tempat pertapaan Sultan dan keluarganya.
  1. Bagian Kolam Pemandian
Bagian ini merupakan bagian yang digunakan untuk Sultan dan keluarganya bersenang-senang. Bagian ini terdiri dari dua buah kolam yang dipisahkan dengan bangunan bertingkat. Air kolam keluar dari pancuran berbentuk binatang yang khas. Bangunan kolam ini sangat unik dengan pot-pot besar didalamnya.
  1. Bagian Pulau Kenanga
Bagian ini terdiri dari beberapa bangunan yaitu Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gemuling, dan lorong-lorong bawah tanah.
Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti adalah sebuah bangunan tinggi yang berfungsi sebagai tempat beristirahat, sekaligus sebagai tempat pengintaian. Bangunan inilah satu-satunya yang akan kelihatan apabila kanal air terbuka dan air mengenangi kawasan Pulau Kenanga ini. Disebutkan bahwa jika dilihat dari atas, bangunan seolah-olah sebuah bunga teratai di tengah kolam sangat besar.
Sumur Gemuling adalah sebuah bangunan melingkar yang berbentuk seperti sebuah sumur didalamnya terdapat ruangan-ruangan yang konon dahulu difungsikan sebagai tempat sholat.
Sementara itu lorong-lorong yang ada di kawasan ini dahulu konon berfungsi sebagai jalan rahasia yang menghubungkan Tamansari dengan Kraton Yogyakarta. Bahkan ada legenda yang menyebutkan bahwa lorong ini tembus ke pantai selatan dan merupakan jalan bagi Sultan Yogyakarta untuk bertemu dengan Nyai Roro Kidul yang konon menjadi istri bagi raja-raja Kasultanan Yogayakarta. Bagian ini memang merupakan bagian yang berfungsi sebagai tempat pertahanan atau perlindungan bagi keluarga Sultan apabila sewaktu-waktu ada serangan dari musuh.
Tamansari adalah sebuah tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Selain letaknya yang tidak terlalu jauh dari Kraton Yogyakarta yang merupakan obyek wisata utama kota ini, Tamansari memiliki beberapa keistimewaan. Keistimewaan Tamansari antara lain terletak pada bangunannya sendiri yang relatif utuh dan terawat serta lingkungannya yang sangat mendukung keberadaannya sebagai obyek wisata.
Di lingkungan Tamansari ini dapat dijumpai masjid Saka Tunggal yang memiliki satu buah tiang. Meskipun masjid ini dibangun pada abad XX, namun keunikannya tetap dapat menjadi aset dikompleks ini. Disamping itu, kawasan Tamansari dengan kampung tamam-nya ini sangat terkenal dengan kerajinan batiknya. Kita dapat berbelanja maupun melihat secara langsung pembuatan batik-batik yang berupa lukisan maupun konveksi. Kampung Tamansari ini sangat dikenal sehingga banyak mendapat kunjungan baik dari wisatawan mancanegara maupun wisata nusantara. Tidak jauh dari Tamansari, dapat dijumpai Pasar ngasem yang merupakan pasar tradisional dan pasar burung terbesar di Yogyakarta. Beberapa daya tarik pendukung inilah yang membuat Tamansari menjadi salah satu tujuan wisata Yogyakarta Kraton Yogyakarta.
Kompleks Taman Sari merupakan peninggalan Sultan HB I. Taman Sari (Fragrant Garden) berarti taman yang indah, yang pada zaman dahulu merupakan tempat rekreasi bagi sultan beserta kerabat istana. Di kompleks ini terdapat tempat yang masih dianggap sakral di lingkungan Taman Sari, yakni Pasareyan Ledoksari tempat peraduan dan tempat pribadi Sultan. Bangunan yang menarik adalah Sumur Gumuling yang berupa bangunan bertingkat dua dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah. Di masa lampau, bangunan ini merupakan semacam surau tempat Sultan melakukan ibadah. Bagian ini dapat dicapai melalui lorong bawah tanah. Di bagian lain masih banyak lorong bawah tanah yang lain, yang merupakan jalan rahasia, dan dipersiapkan sebagai jalan penyelamat bila sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh. Sekarang kompleks Taman Sari hanya tersisa sedikit saja.
             Menuju Palembang- Yogyakarta bila menaiki pesawat dapat dilalui dengan cara, jarak tempuh antara Palembang- Jakarta yaitu 45 menit, lalu akan mendarat di bandara Soekarno-Hatta, menunggu transit dalam beberapa jam. Akan berangkat kembali menuju Yogyakarta selama satu jam, dan sampai di bandara Adisucipto (Jakarta- Yogyakarta = 443 km).

BATIK
PERKEMBANGAN BATIK DI INDONESIA
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

BAKPIA PATHOK

Bakpia berasal dari negeri Cina, aslinya bernama Tou Luk Pia, yang artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau. Selain itu pula bakpia mulai diproduksi di kampung Pathok Yogyakarta, sejak sekitar tahun 1948. Waktu itu masih diperdagangkan secara eceran dikemas dalam besek tanpa label, peminatnya pun masih sangat terbatas. Proses itu berlanjut hingga mengalami perubahan dengan kemasan kertas karton disertai label tempelan. Pada tahun 1980 mulai tampil kemasan baru dengan merek dagang sesuai nomor rumah, diikuti munculnya bakpia-bakpia lain dengan merek dagang nomor berlainan. Demikian pesatnya perkembangan "kue oleh-oleh" itu hingga mencapai booming sejak sekitar tahun 1992.

PERMAINAN YEYE
Salah satu permainan yang cukup digemari oleh anak-anak perempuan di Desa Bojong adalah yeye. Permainan yeye tidak lain adalah permainan loncat tinggi. Alat yang digunakan dalam permainan tersebut adalah tali dengan untaian gelang karet. Panjang tali karet antara dua sampai dua setengah meter.
Jumlah pemain yang terlibat dalam permainan ini, paling sedikit tiga orang. Semakin banyak pemain, semakin ramai dan menyenangkan. Dua dari mereka bertugas memegang kedua ujung tali. Sementara itu yang lainnya harus melompati tali yang terbentang nanti. Untuk melakukan permainan yeye diperlukan lahan yang cukup luas. Lahan yang tepat untuk itu adalah halaman rumah atau lapangan.
Memainkan yeye, tentu memerlukan keterampilan tersendiri, khususnya tenaga yang memadai untuk melakukan lompatan. Semakin pandai pemain melewati tali tanpa bantuan raihan tangan, semakin besar kemungkinannya untuk memimpin permainan tersebut. pemain yang belum terampil akan menggunakan bantuan tangan untuk meraih bentangan tali karet agar jaraknya memendek.
Permainan yeye dimulai dengan menentukan pemegang kedua ujung tali dan pelompat tali tersebut. setelah didapat, pemegang tali mengambil posisi saling berhadapan dengan jarak rentang sedemikian rupa agar tali tampak lurus terbentang. Ketinggian tali yang dibentangkan dimulai dari bagian bawah yaitu selutut, hingga bagian tertinggi yaitu setangan yang diacungkan ke atas. Satu persatu pemain melompati tali, semakin tinggi bentangan tali semakin tinggi tingkat kesulitannya. Oleh karena itu, dia harus menggunakan tangan sebagai alat bantu. Tugas memegang ujung tali akan berhenti jika terjati kesalahan berikut. Pemain tidak dapat melompati tali yang dibentangkan pada setiap ketinggian tertentu, baik dengan bantuan raihan tangan atau tidak.

Punti Kayu


Kawasan Taman Punti Kayu merupakan kawasan konservasi yang konsep pengembanganya berdasarkan pada prinsip-prinsip perlindungan keanekaragaman jenis tumbuhan hayati dan satwa.
Potensi Taman Wisata Alam Punti Kayu berupa panorama hutan pinus (pinus mercussi) yang memiliki nilai estetika pemandangan menarik, serta adanya kebun binatang mini dengan hewan liar yaitu : kera ekor panjang (Macaca Fasicicularis), Beruk (Macaca Nemistriana), dll.
Selain itu ada juga arena menunggang kuda, area atraksi gajah, taman bunga, taman bermain anak, dermaga perahu, kolam renang anak, jembatan gantung, panggung terbuka, dan joglo/pendopo. Untuk fasilitas terdapat pintu gerbang, loket karcis, musholla, pusat informasi, toilet umum, kantin / pondok pedagang sumur, tower air, pos keamanan, dan tempat parkir yang luas.
Hutan Wisata Punti Kayu, secara geografis terletak antara 103° 11″-103° 40″ Bujur Timur dan 3° 11″-3° 12″ Lintang selatan, yang secara administrasi pemerintahan terletak di daerah wilayah Kecamatan Sukarami Kota Palembang Propinsi Sumatera Selatan.
Hutan Wisata Punti Kayu ini dapat di jangkau dengan kendaraan umum trayek Km 12 yang letaknya sekitar 7 Km dari pusat kota dengan luas + 50 ha. Bila menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota ke Punti Kayu memakan waktu selama +/- 30 menit.
Sejak tahun 1998 telah ditetapkan sebagai hutan lindung. Sejak tahun 1986 hasil kesepakatan antara Provinsi Sumatera Selatan dan Departemen Kehutan, Hutan Wisata Punti Kayu menjadi Hutan Wisata dengan menambah beberapa sarana wisata. Taman Hutan Wisata Punti Kayu dibagi atas 4 wilayah:
A. Wilayah taman rekreasi yang mempunyai fasilitas:
1. Kolam renang
2. Tempat Teduh
3. Pos Keamanan dan Pos Informasi
4. Kebun Binatang
5. Sarana Olahraga
6. Ruang serba guna

B. Wilayah Hutan Lindung
C. Wilayah Perkemahan
D. Wilayah Danau dan Rawa
Hutan Wisata Punti Kayu mempunyai potensi strategis dengan batas-batas kawasan:
·                     Sebelah Utara berbatasan dengan jalan Kol. H. Burlian dan tanah milik Pemda Sumatera Selatan.
·                     Sebelah Timur berbatasan dengan perumahan penduduk.
·                     Sebelah Selatan berbatasan dengan tanah milik Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, dan Pemda SumSel.
·                     Sebelah Barat berbatasan dengan daerah rawa-rawa Talang Buruk.
Berbagai fasilitas rekreasi juga telah dibangun. Disini terdapat kolam renang, kebun binatang mini, arena permainan anak, telaga yang lengkap dengan perahu dan jembatannya, area berkemah, kolam pancing, sarana olah raga dan masih banyak lagi. Bahkan dalam waktu dekat ini sang pengelola sudah menjual paket– paket permainan outbound serta menjadi kawasan ini sebagai sentra tanaman hias.
Biaya masuk ke dalam TWA Punti Kayu ini dapat dijangkau oleh semua kalangan. Di pintu utama kita akan membayar biaya masuk sebesar Rp 5000. Setelah masuk ke dalam kawasan TWA Punti Kayu ini akan ada lagi tambahan biaya atau karcis untuk masuk ke dalam taman satwa wisatawan hanya membayar Rp. 5000 lagi, jika akan masuk ke wahana permainan wisatawan hanya membayar tiket masuk dan bermain sebesar Rp 2000. Dan jika ingin menikmati waterboom yang ada didalam kawasan TWA Punti Kayu ini wisatawan hanya membayar Rp. 10.000 sebagai biaya tiket masuk ke dalam wahana waterboom. Biaya flyfox sebesar Rp 15.000 dan biaya masuk ke waduk sebesar Rp 2000. Harga yang masih bisa terjangkau untuk para pengunjung.


MUSEUM

MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
Lokasi Museum ini sebelah utara jalan Merdeka, timur Jembatan Ampera, barat Benteng Kuto Besak, selatan sungai Musi. Ukuran bangunan ini, panjang 32 meter, Lebar 22 meter dan tinggi 18 meter yang terletak diatas tanah 1,5 hektar. Bangunan yang dibangun kembali dan dibongkar habis dan memang sebelumnya merupakan lokasi Benteng Kuto Lamo berdiri keraton Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758). Tahun 1821 keraton ini mendapat serangan dari Pemerintah Belanda dan pada tanggal 7 Oktober 1823 oleh Reguting Commisaris Belanda J.L Van Seven House diperintahkan bongkar habis untuk menghilangkan monumental Kesultanan Palembang dan membalas dendam atas dibakarnya loji Sungai Aur oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1811. Bangunan ini selesai tahun 1825 dan selanjutnya dijadikan komisariat Pemerintah Hindia Belanda untuk Sumatera Bagian Selatan sekaligus sebagai kantor Residen. Pada tahun 1942-1945 gedung ini dikuasai oleh Jepang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI kembali dikuasai pemerintah RI, pada tahun 1949 gedung tersebut dijadikan kantor Toritorium II Sriwijaya dan tahun 1960-1974 digunakan sebagai Resimen Induk IV Sriwijaya. Berdasarkan hasil penelitian dari Tim Arkeologi Nasional tahun 1988 ditemukan pondasi batubata dari Kuto Lamo di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar di lokasi tersebut. Menurut perhitungan bangunan Benteng Kuto Lamo dimasa Sultan Mahmud Badaruddin I resmi ditempati pada hari Senin tanggal 29 September 1737 maka balok-balok itu umurnya lebih dari itu. Nama Museum Sultan Mahmud Badaruddin diabadikan untuk mengingat dan menghargai jasa-jasanya.
Sejarah Palembang di Museum Mahmud Badaruddin
Museum ini memiliki peninggalan sejarah mengenai Palembang. Terletak di tepi sungai Musi, museum ini memamerkan berbagai koleksi dari mulai arkeologi, etnografi, biologi, seni dan terutama informasi tentang pengumpulan mata uang (numismatics) sampai studi atau koleksi mata uang. Sultan Mahmud Badaruddin II adalah penguasa Palembang sejak 1803 sampai 1821. Museum ini pernah menjadi istana Kesultanan Palembang Darussalam. Awalnya disebut sebagai Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto Lamo, bangunan ini bersama dengan Masjid Agung Palembang dibangun pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau SMB I. Berbeda dengan bangunan lain dari era yang sama yang menggunakan kayu, istana ini dibangun dengan batu bata. Dengan kedatangan Belanda pada abad ke-17, istana diduduki oleh tentara kolonial. Selama perang Palembang pada 1819, Belanda mendaratkan 200 pasukannya yang ditempatkan di Keraton Kuto Lamo. Setelah Sultan Mahmud Badadruddin II ditangkap dan diasingkan, Belanda menjarah dan menghancurkan bangunan-bangunan di Palembang, termasuk Keraton Kuto Lamo. Pada tahun 1823, Belanda mulai merekonstruksi reruntuhan bangunan.  Reruntuhan Keraton Kuto Lama, dibangun kembali menjadi tempat tinggal komisaris Kerajaan Belanda di Palembang, Yohan Isaac van Sevenhoven. Pada 1842 bangunan itu selesai dan secara lokal dikenal dengan rumah siput. Sejarah memegang peranan penting akan keberadaan bangunan ini ketika Jepang tiba di tahun 1940-an. Dengan Perang Dunia ke-2 yang berkecamuk di Pasifik, bangunan bersejarah ini dimanfaatkan jepang sebagai basis militer mereka. Setelah Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan tahun 1945, bangunan ini menjadi pangkalan militer resimen IV Indonesia: Sriwijaya. Sebagai bangunan yang terlibat dalam begitu banyak peristiwa sejarah, museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan sebuah layar yang menjelaskan berbagai era dalam sejarah. Siapkan kamera Anda untuk mengabadikan bangunan museum dan seluruh keindahan sejarah yang  terlihat dalam bentuk koleksi-koleksi berharga. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan tempat yang sempurna untuk menjelajahi sejarah Palembang. Dari era Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, era kolonial Belanda dan pendudukan Jepang hingga masa awal kemerdekaan Indonesia semua disajikan dalam 368 koleksinya. Arsitektur bangunannya sendiri termasuk unik karena merupakan kombinasi dari masa  kolonial Belanda dan gaya asli istana Palembang.
ISI DARI MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
ARCA BUDHA
Ditemukan di bukit Siguntang oada sekitar tahun 1920-an ini mempunyai ukuran tinggi 277 cm. Pada saat ditemukan tidak dalam keadaan utuh melainkan terdiri dari beberapa bagian. Awalnya yang ditemukan hanya bagian kepalanya saja. Lalu diletakkan di Museum Nasional Jakarta. Beberapa bulan kemudian badannya. Cara pembuatan arca Budha ini mengikuti gaya seni Amarawati.
ACRA GANESHA
            Dewa dari agama Hindu. Dewa ini merupakan dewa perang atau kebijaksanaan yang memerangi kebodohan atau keserakahan manusia. Biasanya di candi diletakkan di ruang bagian timur atau barat tergantung dari arah hadap candi. Ditemukan di situs Pagaralam di jalan Mayor Ruslan. Ukuran patung ini, tinggi 175 cm dan lebar 110 cm. Terbuat dari batu andesit.
ARCA AWALOKITESWARA
            Dibuat dari batu. Ditemukan di halaman belakang rumah Bapak Icoh, Jalan Pendawa, Lemabang, Palembang tahun 1970an. Patung ini berasal dari abad ke 6-8 Masehi. Digambarkan dengan menggunakan mahkota berbentuk silinder dan bagian atasnya mengecil. Patung ini polos tanpa hiasan. Tangan kanannya digambarkan terbuka. Tangan kirinya digambarkan ibu jari dan telunjuk dipertemukan, ketiga jari lainnya terbuka dengan tangan menghadap keluar sebagai pemberi petunjuk.
PRASASTI KEDUKAN BUKIT
            Prasasti ini yang membuktikan keberadaan Sriwijaya. Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan bahwa Raja Sriwijaya dan bernama Dapunta Hyang membawa tentara sebanyak 20.000 orang berhasil menundukkan Minangatamwan (Jambi).
PRASASTI TALANG TUO
            Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikeserta atas perintah Raja Dapunta Hyang.
PRASASTI TELAGA BATU
            Prasasti ini juga dapat disebut prasasti persumpahan. Untuk mendeteksi perkataan seseorang itu jujur atau bohong, bila perkataannya itu bohong maka ia akan mati setelah meminum air dari cucuran batu tersebut. Prasasti ini berbentuk seperti ular kobra dengan tujuh ular kobra. Keberadaan prasasti ini di museum Sultan Mahmud Badaruddin II hanya replikanya saja yang terbuat dari fiber, prasasti yang asli berada di Museum Nasional Jakarta.
REPLIKA RUMAH LIMAS
Bagian-bagian dari rumah limas:
·         Ruangan pagar tengaloong
·         Ruangan jogan
·         Ruangan kekijing
·         Ruangan Gegajah
Dimana semua upacara adat dilakukan.
·         Ruangan kepala keluarga
Terletak sebelah kanan rumah.
·         Ruangan pangkeng pengantin
Terletak kiri rumah.
·         Ruangan Keputuen
Terletak di belakang pangkeng pengantin.
KERAJINAN UKIRAN
Simbol bunga-bunga seperti melati, teratai, bunga matahari, tanjung, daun. Dibedakan atas 3 bentuk:
  • Untuk bangunan rumah limas.
  • Untuk benda-benda pakai atau benda yang menambah keindahan.
  • Untuk benda-benda gantungan dinding.
NAMPAN KUNINGAN
             Untuk membawa atau meletakkab hidangan makanan kepada tamu.
SONGKET
KESENIAN (ALAT MUSIK JIDURAN)
            Musik yang dibawa kaum kolonial yang akhirnya menjadi musik tradisional. Digunakan pada saat upacara pernikahan atau perayaan lainnya.
MANGKUK BESAR
            Hiasan flora.


Batik Palembang


SRIWIJAYA POST
Sriwijaya Post - Senin, 19 April 2010 20:01 WIB
DIAKUINYA batik sebagai warisan budaya dunia tak ternilai oleh UNESCO pada 2 Oktober tahun 2009 lalu, ternyata belum mampu mengangkat Batik Palembang. Padahal Batik Palembang memiliki motif dan corak warna yang berbeda dengan batik-batik dari daerah lain seperti Pekalongan atau Cirebon.
Tak sulit menemukan pengrajin Batik Palembang. Salah satu lokasi pengrajin batik ada di Jalan Aiptu Wahab atau sekitar 500 meter dari Jembatan Ogan. Pusat pengrajin diberinama Indra Jaya tak hanya Batik Palembang, juga kain Prada Palembang.
Risnawati, pemilik menuturkan, Batik Palembang merupakan salah satu batik yang ada di Indonesia. Kesulitan Palembang Darussalam ikut menyumbangkan motif khas yang saat ini masih eksis dan diburuh para pemilik.
Batik Palembang mempunyai berbagai motif seperti Jeperi, Baku, Jukung, Babar Emas, Kerak motong, Lasem, Sisik Ikan, Gribik, Encim, Kembang Akung, dan masih banyak lagi. Bahan yang digunakan hanya sutra organdi dan sutra, bukan katun seperti kebanyakan batik yang dijual di pasar-pasar. Batik Palembang, bukan batik tulis, melainkan cap. “Kami tidak bisa membatik di kain kantun seperti dilakukan pengrajin di Jawa. Salah satu faktor sulitnya Batik Palembang diproduksi massal dan bersaing dengan batik dari Jawa,” tutur Risnawati. Rusnawati melanjutkan usaha keluarga sejak 10 tahun lalu. Padahal harga batik yang ditawarkan Risnawati tidak terlalu mahal. Untuk satu stel terdiri dari sarung, selendang dan baju harganya Rp 200.000 hingga Rp 250.000 dari bahan sutra organdi. Produksi Indra Jaya untuk memasok toko-toko kain di Pasar 16 Ilir Baru Komplek Ilir Barat Permai (IBP). Hasil kerajinannya ini tidak hanya dijual di rumah sendiri juga untuk mengisi toko-toko di Pasar 16 Ilir baru. Ia hanya mempunyai 5-8 pekerja, itu pun tergantung banyak pesanan dari pedagang. Ia belajar belajar membatik di pulau Jawa saat itu departemen perdagangan, Industri dan UKM membawa dirinya belajar membatik. Berbekal ilmu yang didapatnya itu lah, Rusnawati mulai belajar membatik, sedangkan motif dan cetakan batik Palembang diperolehnya dari dinas terkait. Perbedaan batik Palembang dengan batik daerah lain terletak pada pewarnaan dan motif. Warna batik palembang lebih banyak terinspirasi warna kain songket. Warna merah yang mendominasi. “Batik Palembang itu belum bisa menyamai batik-batik Jawa. Lihat saja di pasar-pasar. Pengrajin batik Palembang juga sedikit. Sebenarnya bukan kita tidak tidak dapat bersaing, tapi terkendala modal. Kita juga kesulitan mendapatkan bahan baku katun. Seperti saya ini belum bisa membuat batik di kantun begitu juga untuk pewarnaan,” katanya. Sripo.
SEWET BATIK PALEMBANG :
Selain kain-kain yang tersebut, sewet pelangi dan jumputan, sewet peradan, ada juga kain batik. Batik Palembang mempunyai ciri khusus dengan motif yang halus dan warnanya yang magis. Sewet Batik Palembang yang terkenal adalah Sewet Batik Jepri dan Batik Lasem.

Batik Palembang Terancam Punah
Sunday, 27 March 2011
Sungguh ironis, ketika negara lain mengakui batik sebagai salah satu karya seni terindah milik Indonesia, keberadaan batik Palembang justru diambang kepunahan. Saat ini, batik yang muncul sejak era kerajaan Palembang ini semakin langka.
Batik Palembang yang diperkirakan sudah ada sejak 300 silam, mulai menghilang sekitar tahun 1950-an. Sejak masa itu batik khas Palembang yang memiliki sekitar 17 motif ini tidak menjadi perhatian. Terbukti, batik khas Palembang hampir tidak bisa ditemui di sentra-sentra produksi kerajinan khas Palembang lainnya seperti songket dan jumputan.
Jenis batik tulis khas Palembang ini hanya berupa koleksi beberapa tokoh Palembang ataupun desainer lokal. Padahal, batik khas Palembang ini kaya akan motif. Seperti motif batik jeperi, bakung, jukung, babar emas, babar kecubung, daun teh, sumping, bungo dadar, bungo delimo, bebek pulang sore, bungo pacik, bungo cino, bungo tanjung dan lainnya. Kepunahan batik Palembang semakin dipercepat dengan semakin sedikitnya jumlah perajinnya. Meski konon, walau tak ada perajin yang mampu membuat batik tulis asli, masih ada perajin yang memiliki pelat (pencetak motif) batik asli. Sayangnya lagi, dari pelat ini pun, batik khas Palembang dahulu sempat dicetak atau dibuat di Pekalongan - lantaran tak bisa diproduksi di Palembang - jumlah juga sangat terbatas.
Jika dibandingkan dengan familiarnya batik khas Jawa yang beraneka ragam, sebenarnya batik khas Palembang dapat saja menjadi eksis asalkan ada kemauan semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Sebab kita tahu, batik Pekalongan, batik Yogyakarta, maupun batik Solo saat ini sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan internasional. Mengapa? Karena kesenian batik ini tak hanya terus diproduksi di daerah asalnya saja, melainkan keseriusan semua pihak memang nampak. Terlihat, batik menjadi tren di dunia fashion dan banyak diincar oleh para designer. “Saya cukup prihatin dengan warisan budaya kerajinan batik tulis (canting) Palembang sangat langka dan bisa dibilang tak tak ada perajinnya,” ujar Sultan Palembang Sri Baginda Iskandar Mahmud Badaruddin kepada harian SINDO (26/3).
Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin mengaku ternyata memiliki cukup banyak koleksi batik asli Palembang yang sengaja disimpan dan digunakan pada kegiatan-kegiatan besar. Sebab, menurut dia, dengan menggunakan pakaian adat ciri khas Palembang sama dengan mengangkat derajat Palembang dengan kekayaan budayanya. Sultan menyatakan, berbagai upaya harus segera dilakukan terkait hampir punahnya batik asli Palembang. Upaya pelestarian itu dapat dilakukan atas keseriusan bersama, baik masyarakat, perajin dan sudah pasti pemerintah. Sebab, batik asli palembang layak untuk dipertahankan, agar kerajinan khas yang seharusnya menjadi kebanggan ini tetap dikenal dan dicintai masyarakat Palembang khususnya. “Sebenarnya batik asli Palembang bisa saja kembali berjaya, asalkan tadi, semua pihak mengambil peran. Apalagi, batik Palembang memiliki kekhasan yang menonjol, mulai dari motif yang halus dan warna yang indah, yang dominan memiliki motif bunga atau flora, seperti batik Jepri dan batik Lasem,” terangnya. Sultan menuturkan, perajin Palembang pun bisa kembali mengasah keahliannya dengan mendalami pembuatan batik asli Palembang berbagai motif. Syaratnya, para perajin harus dibekali pendidikan dan pelatihan yang diupayakan oleh pemerintah Palembang dan Sumsel. Siswa sekolah di Palembang bisa diajak dan diajari untuk membuat batik, seperti ajakan membuat kain jumputan yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. “Kita harus mensinkronisasi kebudayaan kesultanan Palembang Darusalam yang memiliki histories terkait hasil warisan budaya batik dari para leluhur. Meskipun dimodernisasi, batik Palembang ini nantinya harus tetap memiliki khasanah keaslian dan kekhasannya. Kalau pun ada modifikasi, jangan melupakan keasliannya,” bebernya.
Dahulu, sambung Sultan, desainer songket dan batik Mir Senen (almarhum) masih menyimpan koleksi batik sebagai peninggalan Kerajaan Palembang pasca keruntuhan Kerajaan Sriwijaya di galerinya. “Batik ini sangat elegan dan indah. Apalagi, pewarnaan didominasi merah dan emas pengaruh budaya Cina. Pada masanya, hanya digunakan kaum borjuis atau keluarga kerajaan menghadiri pesta pernikahan. Tapi, batik ini telah digunakan berbagai pihak sesuai dengan keputusan Presiden SBY,” terangnya.
Untuk itu, Sultan berharap, pemerintah ataupun pejabat lainnya tidak melupakan kebudayaan asli daerah. Dia meminta, para pejabat hanya mementingkan kunjungan-kunjungan ke luar, sementara kepentingan lokal terutama di bidang kesenian dan kebudayaan malah terabaikan. “Pejabat kita sepatutnya tidak kebanyakan kunker, seharusnya urusan dalam negeri atau daerah terkait budaya harus ditingkatkan. Selain itu, promosi-promosi kekayaan budaya asli daerah jangan dilupakan, termasuk jika ke daerah lain bahkan ke luar negeri sekalipun harus bisa mengangkat nama daerah,” pungkasnya.
Pekerja seni Palembang, Suharno menilai, keberadaan batik Palembang masih bisa diselamatkan. Sebab menurut dia, teknik membatik Palembang sama dengan masyarakat Jawa, sehingga tidak sulit untuk membuatnya. Yang membedakannya hanya corak dan warnanya saja. “Seperti halnya songket yang banyak menggunakan benang emas, batik juga menggunakan warna merah, kuning dan beberapa corak warna cerah. Mungkin sangat identik dengan Cina yang telah masuk dalam kebudayaan Palembang sejak dahulu,” ungkap dia.
Koleksi batik Palembang sempat disimpan oleh almarhum Gatmyr Senen (Mir Senen) di galeri miliknya. Koleksinya pun terbilang cukup langka, antara lain, batik motif bungo kenango bagian atasan merupakan kain panjang yang dililitkan melingkari dada sampai perut. Selain itu juga ada Batik Sebagi yang konon digunakan bangsawan untuk menghadiri acara pernikahan kerabat kekeratonan.
Istimewanya, motif batik sebagi nyaris tidak bisa ditiru karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi. Mir Senen juga memiliki sebanyak 16 koleksi kayu cetakan motif batik sebagi yang dibuat dari kayu. Nilai historis dan seninya disebut-sebut lebih tinggi dari sejumlah motif batik Jawa yang dicetak pakai tembaga. Meseum Bala Putra Dewa juga menyimpan koleksi kayu itu.
Perajin Harus Terus Dibina
Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang meminta kepada dinas yang menangani pembinaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berusaha meningkatkan jumlah perajin batik khas Palembang. “Kita sadari selama ini pamor perajin batik Palembang tidak begitu eksis di tengah-tengah publik. Perajin batik harus betul-betul dibina ,diawasi, dan diberikan motivasi agar keberadaan batik Palembang tidak pudar,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang H. Husni Thamrin kemarin (26/3).
Dia menilai kelangsungan usaha batik Palembang ini dapat terus bertahan sepanjang masa jika kerajinan khas batik benar-benar dijalankan secara maksimal dan penuh tanggungjawab. Bahkan, kata dia, perajin lama dapat menularkan ilmu keterampilannya itu kepada kaum muda. Dengan adanya regenerasi perajin batik dimungkinkan kelestarian batik khas Palembang dapat terjaga.
“Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palembang harus bekerja keras dalam upaya membina, mengawasi dan memberikan pelatihan keterampilan kepada calon pelaku UMKM batik ini sehingga keberadaan perajin khas batik dapat dilestarikan,” katanya. Permasalahan ini, kata dia, sebenarnya memerlukan peran serta semua pihak, termasuk masyarakat Palembang untuk melestarikan kerajinan batik Palembang. Masyarakat, lanjut dia, bisa memulai usaha ini dari rumah ke rumah atas referensi dari perajin yang sudah berpengalaman.
“Pelaku usaha ini harus terus diberikan pelatihan secara kontinyu sehingga benar-benar menguasai apa yang ditekuni. Tinggal keseriusan dari pelaku usaha menjalankannya. Semua usia bisa menjalankannya, baik tua, remaja maupun dewasa,” tandasnya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Baharuddin Ali mengklaim pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengingat masalah itu merupakan tanggung jawab dan kewenangan penuh dari Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag). “Masalah kerajinan batik bukan wewenang kami dan sepenuhnya tanggungjawab Disperindag Kota,” katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Industri, Disperindag Kota Palembang Rosidi Idrus menyatakan pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin untuk melestarikan khasanah khas Palembang akan kerajinan batik khas Palembang ini. “Setiap 10 hari sekali, kami memantau perkembangan keterampilan pelaku usaha. Bukan saja terfokus pada usaha batik Palembang saja, melainkan pula keterampilan lain seperti songket maupun blongsong,” ujarnya.
Dia mengaku memang keberadaan perajin batik khas Palembang ini terbilang sedikit dan dapat dihitung dengan jari. Perajin batik Kota Palembang hanya berjumlah 10 yang berada di daerah Tuan Kentang dan kawasan Gede Ing Syuro. Kendatipun berjumlah sedikit, kata dia, namun pihaknya tidak begitu mengkhawatirkan akan terjadi kepunahan atas kerajinan batik asli Kota Palembang ini. “Sampai saat ini kami terus berupaya untuk mencari regenerasi perajin batik ini. Mulai dari pemuda, anak putus sekolah, Ibu Rumah Tangga (IRT) dilibatkan menjadi pelaku usaha batik sehingga ke depan dimungkinkan kuantitas perajin batik dapat diandalkan, baik di dalam maupun mancanegara,” jelasnya.
Dalam memperhatikan perajin batik Kota Palembang ini, beber dia, pihaknya bersama dengan tim Diperindag pusat melakukan upaya pembinaan, pelatihan dan pemberian motivasi agar perajin batik dapat lebih berinovasi dalam mengembangkan usaha batik ini lebih baik lagi. Dia mengaku pihaknya terus mengevaluasi kinerja perajin batik khas Palembang secara berkesinambungan.
Pelaku usaha yang memiliki keterbatasan dana pun juga dibantu, baik dari internal Diperindag maupun mencari dana pihak ketiga. “Dana yang dimiliki untuk membina perajin batik ini sangat terbatas. Kami harapkan keseriusan pelaku usaha untuk melakoni usaha batik ini sehingga kerajinan batik asli Palembangtidakpunah,” katanya.

Kental Nuansa Islam, Lambang Status Sosial
Meski memiliki motif dan gaya tersendiri, batik Palembang terlahir atas sentuhan budaya jawa yang masuk di masa Kerajaan Palembang. Kerajinan ini lama kelamaan mendapatkan tempat dan mengalami kemajuan pesat pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Tidak diketahui secara persis, kapan batik Palembang mulai ada di Palembang. Budayawan Yudhy Syarofie mengaku telah menelurusi berbagai literatur sejarah, namun tidak menemukan waktu pasti kapan seni yang diidentikkan dengan budaya jawa ini masuk ke Palembang. Dia hanya berani memperkirakan kerajinan ini muncul pada era berdirinya kerajaan Palembang, sekitar akhir tahun 1500 masehi. Sebab, saat itu terjadi kedekatan dan pertukaran antara kebudayaan melayu dan kebudayaan Jawa. “Diperkirakan masuknya unsur Jawa dalam kebudayaan Melayu dipengaruhi oleh Kerajaan Demak. Sebab, di era Kerajaan Palembang terjadi kedekatan dan pertukaran budaya termasuk batik,” terang Yudhy.
Dalam catatan sejarah kemunculan batik Palembang juga dilatarbelakangi kegiatan politik di masa itu. Sebab pada masa itu telah terjadi hubungan diplomatik antara Kerajaan Palembang dengan Kerajaan Mataram. Namun, saat Palembang direbut oleh VOC pada tahun 1659, Kerajaan Mataram tidak memberi bantuan pada Kerajaan Palembang meski kekuasaannya diserang. “Pada tahun 1663 masehi, Palembang yang dalam kekuasaan VOC sempat mengutus beberapa orang untuk mempelajari ideologi dan politik Jawa. Hingga terjadi serapan kebudayaan,” jelas pria yang telah menulurkan sejumlah karya sastra khas Sumsel ini.
Kentalnya perpaduan budaya pada masa ini, juga digambarkan dengan munculnya bebaso, bahasa “asli” Palembang yang beberapa kosakatanya diambil dari bahasa jawa dengan perpaduan bahasa melayu. Kentalnya unsur jawa juga terlihat dengan cara berpakaian masyarakat Palembang kala itu. Setelah mengalami sistem kerajaan, pemerintahan Palembang kemudian berganti menjadi kesultanan. Pada masa ini, penguasa Palembang kala itu, menempatkan diri sama rata dan sejajar dengan Kerajaan mataram, yang sebelumnya mengklaim berkuasa atas Palembang. “Sebelum berdiri Kesultanan, kerajaan Palembang saat itu disebut Patsal yang artinya bawahan Kerajaan Mataram di Jawa,” imbuh dia.
Akibat munculnya paradigma kesejajaran antara Kesultanan dengan Kerajaan Mataram, tradisi yang dahulunya tidak dikenal kemudian dipakai oleh Palembang dalam adatnya. Demikian juga dengan pemberian simbolsimbol bangsawan yang hampir sama dengan Kerajaan Mataram. Bahkan, pada masa itu juga lahirlah istilah Raden, yang digunakan bagi para ningrat atau pangeran dari keluarga Kesultanan. Pada masa kesultanan ini, keberadaan batik Palembang semakin kuat dan dikenal masyarakat. Bahkan pada masa ini, penggunaan batik juga disesuaikan dengan strata pemakainya. Batik yang digunakan oleh para ningrat, berbeda dengan batik yang digunakan oleh masyarakat biasa. Yudi menambahkan, pada masa tersebut Kesultanan Palembang identik dengan Islam sebagai agama negara. Seorang Sultan selain sebagai seorang kepala pemerintahan bagi rakyat, juga sekaligus Imam dalam hal keagamaan. Karena kekuatan dari Islam sebagai landasan agama turut juga mempengaruhi kebudayaan, salah satunya batik Palembang. Hingga terjadi perbedaan corak dengan batik jawa, dan corak khas tersebut identik dengan gambar flora dan tidak menggunakan gambar fauna atau hewani. “Islam sangat kuat salah satunya masyarakat dilarang melukiskan dan menggambar hewan. Karena itu motif batik Palembang semuanya flora. Meski ada pengaruh Cina dengan warna merah dan kuning atau cerah,” papar pria yang pernah menapaki karier di dunia jurnalistik ini.
Pada era kesultanan berkembang sejumlah motif batik khas Palembang seperti motif batik sumping, bungo dadar, bungo delimo, bebek pulang sore, bungo pacik, bungo cino,dan bungo tanjung. Bahan baku batik Palembang kebanyakan menggunakan kain sutera. Sementara bahan baku untuk membatik sama dengan bahan yang digunakan oleh Masyarakat Jawa. Perbedaannya, batik jawa menggunakan bahan kain Mori.
Untuk laki-laki batik tersebut banyak digunakan untuk Ketang Bekasem atau ikat kepala dengan motif kembang teh. Semantara motif bunga cempaka, srikaya, dan buah nona digunakan oleh keraton. Baru kemudian pada era Sultan Muhammad Baha’uddin, keraton mengatur soal pemakaian busana khusus bagi keraton. Busana para bangsawan adalah pakaian yang tidak digunakan masyarakat kebayakan pada masa itu.

Diproduksi Massal
Pasca keruntuhan Kesultanan palembang Darussalam dan beralih masa penjajahan Belanda, Batik Palembang sempat diproduksi secara massal. Dalam literatur sejarah dan fotografi di masa kolonial dan keresidenan Palembang, sempat beberapa kali dilaksanakan pameran keliling batik Palembang di wilayah Hindia Belanda. “Salah satunya foto pameran batik busana Palembang yang masih dapat disaksikan yakni di Surabaya tahun 1925. Sayangnya, produksi massal batik Palembang itu berhenti sejak tahun 1950,”ujar dia.
Berhentinya industri batik Palembang itu terjadi lantaran kurangnya regenerasi seniman batik di Palembang. Selain itu, mahalnya bahan baku sutera membuat produksi batik menjadi terhambat. Selain itu kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih modern seiring masuknya fashion dari barat di era tahun 50-an.***sindo/infokito.
***disadur dari sejumlah tulisan retno palupi, darfian jaya suprana, muhammad uzair di harian sindo

SUMATERA EKSPRES
Jumat, 05 November 2010 00:14
Mengenai proses pembuatannya, kata Anis, sedikit berbeda dengan batik Jawa. Di Palembang, kain yang akan dibatik dibentangkan dengan kencang menggunakan ram persegi panjang. Setelah itu baru dilukis atau dicap.
“Batik yang dicap akan kelihatan berbeda bila dilihat,” tukasnya. Sedangkan batik yang dilukis akan kelihatan sama antara luar dan dalam. "Kalau di Jawa, pelukisan batik tidak dibentang dan sambil dipegang," ungkapnya lagi. Lanjutnya, Dian Pelangi sudah mematenkan beberapa hasil batik modifikasi. Yakni, jumputan limar, batik blongsong, batik lukis, abstrak, geribik batik, batik songket dan songket pelangi. "Kita sudah mengurusnya bersama Disperindagkop Sumsel sejak 26 Januari 2010 lalu agar tidak ada yang meniru," katanya. Soal perawatan kain batik, ia memberikan beberapa tip. Sarannya, jangan mencuci menggunakan detergen, namun sebaiknya dicuci dengan sabun mandi, shampo dan silki. Kain batik tersebut, sebaiknya tidak disikat melainkan hanya dikucek saja. "Dan penjemuran jangan langsung mengenai sinar matahari, melainkan kering karena angin," jelasnya.