Selasa, 17 Januari 2012

Batik Palembang


SRIWIJAYA POST
Sriwijaya Post - Senin, 19 April 2010 20:01 WIB
DIAKUINYA batik sebagai warisan budaya dunia tak ternilai oleh UNESCO pada 2 Oktober tahun 2009 lalu, ternyata belum mampu mengangkat Batik Palembang. Padahal Batik Palembang memiliki motif dan corak warna yang berbeda dengan batik-batik dari daerah lain seperti Pekalongan atau Cirebon.
Tak sulit menemukan pengrajin Batik Palembang. Salah satu lokasi pengrajin batik ada di Jalan Aiptu Wahab atau sekitar 500 meter dari Jembatan Ogan. Pusat pengrajin diberinama Indra Jaya tak hanya Batik Palembang, juga kain Prada Palembang.
Risnawati, pemilik menuturkan, Batik Palembang merupakan salah satu batik yang ada di Indonesia. Kesulitan Palembang Darussalam ikut menyumbangkan motif khas yang saat ini masih eksis dan diburuh para pemilik.
Batik Palembang mempunyai berbagai motif seperti Jeperi, Baku, Jukung, Babar Emas, Kerak motong, Lasem, Sisik Ikan, Gribik, Encim, Kembang Akung, dan masih banyak lagi. Bahan yang digunakan hanya sutra organdi dan sutra, bukan katun seperti kebanyakan batik yang dijual di pasar-pasar. Batik Palembang, bukan batik tulis, melainkan cap. “Kami tidak bisa membatik di kain kantun seperti dilakukan pengrajin di Jawa. Salah satu faktor sulitnya Batik Palembang diproduksi massal dan bersaing dengan batik dari Jawa,” tutur Risnawati. Rusnawati melanjutkan usaha keluarga sejak 10 tahun lalu. Padahal harga batik yang ditawarkan Risnawati tidak terlalu mahal. Untuk satu stel terdiri dari sarung, selendang dan baju harganya Rp 200.000 hingga Rp 250.000 dari bahan sutra organdi. Produksi Indra Jaya untuk memasok toko-toko kain di Pasar 16 Ilir Baru Komplek Ilir Barat Permai (IBP). Hasil kerajinannya ini tidak hanya dijual di rumah sendiri juga untuk mengisi toko-toko di Pasar 16 Ilir baru. Ia hanya mempunyai 5-8 pekerja, itu pun tergantung banyak pesanan dari pedagang. Ia belajar belajar membatik di pulau Jawa saat itu departemen perdagangan, Industri dan UKM membawa dirinya belajar membatik. Berbekal ilmu yang didapatnya itu lah, Rusnawati mulai belajar membatik, sedangkan motif dan cetakan batik Palembang diperolehnya dari dinas terkait. Perbedaan batik Palembang dengan batik daerah lain terletak pada pewarnaan dan motif. Warna batik palembang lebih banyak terinspirasi warna kain songket. Warna merah yang mendominasi. “Batik Palembang itu belum bisa menyamai batik-batik Jawa. Lihat saja di pasar-pasar. Pengrajin batik Palembang juga sedikit. Sebenarnya bukan kita tidak tidak dapat bersaing, tapi terkendala modal. Kita juga kesulitan mendapatkan bahan baku katun. Seperti saya ini belum bisa membuat batik di kantun begitu juga untuk pewarnaan,” katanya. Sripo.
SEWET BATIK PALEMBANG :
Selain kain-kain yang tersebut, sewet pelangi dan jumputan, sewet peradan, ada juga kain batik. Batik Palembang mempunyai ciri khusus dengan motif yang halus dan warnanya yang magis. Sewet Batik Palembang yang terkenal adalah Sewet Batik Jepri dan Batik Lasem.

Batik Palembang Terancam Punah
Sunday, 27 March 2011
Sungguh ironis, ketika negara lain mengakui batik sebagai salah satu karya seni terindah milik Indonesia, keberadaan batik Palembang justru diambang kepunahan. Saat ini, batik yang muncul sejak era kerajaan Palembang ini semakin langka.
Batik Palembang yang diperkirakan sudah ada sejak 300 silam, mulai menghilang sekitar tahun 1950-an. Sejak masa itu batik khas Palembang yang memiliki sekitar 17 motif ini tidak menjadi perhatian. Terbukti, batik khas Palembang hampir tidak bisa ditemui di sentra-sentra produksi kerajinan khas Palembang lainnya seperti songket dan jumputan.
Jenis batik tulis khas Palembang ini hanya berupa koleksi beberapa tokoh Palembang ataupun desainer lokal. Padahal, batik khas Palembang ini kaya akan motif. Seperti motif batik jeperi, bakung, jukung, babar emas, babar kecubung, daun teh, sumping, bungo dadar, bungo delimo, bebek pulang sore, bungo pacik, bungo cino, bungo tanjung dan lainnya. Kepunahan batik Palembang semakin dipercepat dengan semakin sedikitnya jumlah perajinnya. Meski konon, walau tak ada perajin yang mampu membuat batik tulis asli, masih ada perajin yang memiliki pelat (pencetak motif) batik asli. Sayangnya lagi, dari pelat ini pun, batik khas Palembang dahulu sempat dicetak atau dibuat di Pekalongan - lantaran tak bisa diproduksi di Palembang - jumlah juga sangat terbatas.
Jika dibandingkan dengan familiarnya batik khas Jawa yang beraneka ragam, sebenarnya batik khas Palembang dapat saja menjadi eksis asalkan ada kemauan semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Sebab kita tahu, batik Pekalongan, batik Yogyakarta, maupun batik Solo saat ini sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan internasional. Mengapa? Karena kesenian batik ini tak hanya terus diproduksi di daerah asalnya saja, melainkan keseriusan semua pihak memang nampak. Terlihat, batik menjadi tren di dunia fashion dan banyak diincar oleh para designer. “Saya cukup prihatin dengan warisan budaya kerajinan batik tulis (canting) Palembang sangat langka dan bisa dibilang tak tak ada perajinnya,” ujar Sultan Palembang Sri Baginda Iskandar Mahmud Badaruddin kepada harian SINDO (26/3).
Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin mengaku ternyata memiliki cukup banyak koleksi batik asli Palembang yang sengaja disimpan dan digunakan pada kegiatan-kegiatan besar. Sebab, menurut dia, dengan menggunakan pakaian adat ciri khas Palembang sama dengan mengangkat derajat Palembang dengan kekayaan budayanya. Sultan menyatakan, berbagai upaya harus segera dilakukan terkait hampir punahnya batik asli Palembang. Upaya pelestarian itu dapat dilakukan atas keseriusan bersama, baik masyarakat, perajin dan sudah pasti pemerintah. Sebab, batik asli palembang layak untuk dipertahankan, agar kerajinan khas yang seharusnya menjadi kebanggan ini tetap dikenal dan dicintai masyarakat Palembang khususnya. “Sebenarnya batik asli Palembang bisa saja kembali berjaya, asalkan tadi, semua pihak mengambil peran. Apalagi, batik Palembang memiliki kekhasan yang menonjol, mulai dari motif yang halus dan warna yang indah, yang dominan memiliki motif bunga atau flora, seperti batik Jepri dan batik Lasem,” terangnya. Sultan menuturkan, perajin Palembang pun bisa kembali mengasah keahliannya dengan mendalami pembuatan batik asli Palembang berbagai motif. Syaratnya, para perajin harus dibekali pendidikan dan pelatihan yang diupayakan oleh pemerintah Palembang dan Sumsel. Siswa sekolah di Palembang bisa diajak dan diajari untuk membuat batik, seperti ajakan membuat kain jumputan yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. “Kita harus mensinkronisasi kebudayaan kesultanan Palembang Darusalam yang memiliki histories terkait hasil warisan budaya batik dari para leluhur. Meskipun dimodernisasi, batik Palembang ini nantinya harus tetap memiliki khasanah keaslian dan kekhasannya. Kalau pun ada modifikasi, jangan melupakan keasliannya,” bebernya.
Dahulu, sambung Sultan, desainer songket dan batik Mir Senen (almarhum) masih menyimpan koleksi batik sebagai peninggalan Kerajaan Palembang pasca keruntuhan Kerajaan Sriwijaya di galerinya. “Batik ini sangat elegan dan indah. Apalagi, pewarnaan didominasi merah dan emas pengaruh budaya Cina. Pada masanya, hanya digunakan kaum borjuis atau keluarga kerajaan menghadiri pesta pernikahan. Tapi, batik ini telah digunakan berbagai pihak sesuai dengan keputusan Presiden SBY,” terangnya.
Untuk itu, Sultan berharap, pemerintah ataupun pejabat lainnya tidak melupakan kebudayaan asli daerah. Dia meminta, para pejabat hanya mementingkan kunjungan-kunjungan ke luar, sementara kepentingan lokal terutama di bidang kesenian dan kebudayaan malah terabaikan. “Pejabat kita sepatutnya tidak kebanyakan kunker, seharusnya urusan dalam negeri atau daerah terkait budaya harus ditingkatkan. Selain itu, promosi-promosi kekayaan budaya asli daerah jangan dilupakan, termasuk jika ke daerah lain bahkan ke luar negeri sekalipun harus bisa mengangkat nama daerah,” pungkasnya.
Pekerja seni Palembang, Suharno menilai, keberadaan batik Palembang masih bisa diselamatkan. Sebab menurut dia, teknik membatik Palembang sama dengan masyarakat Jawa, sehingga tidak sulit untuk membuatnya. Yang membedakannya hanya corak dan warnanya saja. “Seperti halnya songket yang banyak menggunakan benang emas, batik juga menggunakan warna merah, kuning dan beberapa corak warna cerah. Mungkin sangat identik dengan Cina yang telah masuk dalam kebudayaan Palembang sejak dahulu,” ungkap dia.
Koleksi batik Palembang sempat disimpan oleh almarhum Gatmyr Senen (Mir Senen) di galeri miliknya. Koleksinya pun terbilang cukup langka, antara lain, batik motif bungo kenango bagian atasan merupakan kain panjang yang dililitkan melingkari dada sampai perut. Selain itu juga ada Batik Sebagi yang konon digunakan bangsawan untuk menghadiri acara pernikahan kerabat kekeratonan.
Istimewanya, motif batik sebagi nyaris tidak bisa ditiru karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi. Mir Senen juga memiliki sebanyak 16 koleksi kayu cetakan motif batik sebagi yang dibuat dari kayu. Nilai historis dan seninya disebut-sebut lebih tinggi dari sejumlah motif batik Jawa yang dicetak pakai tembaga. Meseum Bala Putra Dewa juga menyimpan koleksi kayu itu.
Perajin Harus Terus Dibina
Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang meminta kepada dinas yang menangani pembinaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berusaha meningkatkan jumlah perajin batik khas Palembang. “Kita sadari selama ini pamor perajin batik Palembang tidak begitu eksis di tengah-tengah publik. Perajin batik harus betul-betul dibina ,diawasi, dan diberikan motivasi agar keberadaan batik Palembang tidak pudar,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang H. Husni Thamrin kemarin (26/3).
Dia menilai kelangsungan usaha batik Palembang ini dapat terus bertahan sepanjang masa jika kerajinan khas batik benar-benar dijalankan secara maksimal dan penuh tanggungjawab. Bahkan, kata dia, perajin lama dapat menularkan ilmu keterampilannya itu kepada kaum muda. Dengan adanya regenerasi perajin batik dimungkinkan kelestarian batik khas Palembang dapat terjaga.
“Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palembang harus bekerja keras dalam upaya membina, mengawasi dan memberikan pelatihan keterampilan kepada calon pelaku UMKM batik ini sehingga keberadaan perajin khas batik dapat dilestarikan,” katanya. Permasalahan ini, kata dia, sebenarnya memerlukan peran serta semua pihak, termasuk masyarakat Palembang untuk melestarikan kerajinan batik Palembang. Masyarakat, lanjut dia, bisa memulai usaha ini dari rumah ke rumah atas referensi dari perajin yang sudah berpengalaman.
“Pelaku usaha ini harus terus diberikan pelatihan secara kontinyu sehingga benar-benar menguasai apa yang ditekuni. Tinggal keseriusan dari pelaku usaha menjalankannya. Semua usia bisa menjalankannya, baik tua, remaja maupun dewasa,” tandasnya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Baharuddin Ali mengklaim pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengingat masalah itu merupakan tanggung jawab dan kewenangan penuh dari Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag). “Masalah kerajinan batik bukan wewenang kami dan sepenuhnya tanggungjawab Disperindag Kota,” katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Industri, Disperindag Kota Palembang Rosidi Idrus menyatakan pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin untuk melestarikan khasanah khas Palembang akan kerajinan batik khas Palembang ini. “Setiap 10 hari sekali, kami memantau perkembangan keterampilan pelaku usaha. Bukan saja terfokus pada usaha batik Palembang saja, melainkan pula keterampilan lain seperti songket maupun blongsong,” ujarnya.
Dia mengaku memang keberadaan perajin batik khas Palembang ini terbilang sedikit dan dapat dihitung dengan jari. Perajin batik Kota Palembang hanya berjumlah 10 yang berada di daerah Tuan Kentang dan kawasan Gede Ing Syuro. Kendatipun berjumlah sedikit, kata dia, namun pihaknya tidak begitu mengkhawatirkan akan terjadi kepunahan atas kerajinan batik asli Kota Palembang ini. “Sampai saat ini kami terus berupaya untuk mencari regenerasi perajin batik ini. Mulai dari pemuda, anak putus sekolah, Ibu Rumah Tangga (IRT) dilibatkan menjadi pelaku usaha batik sehingga ke depan dimungkinkan kuantitas perajin batik dapat diandalkan, baik di dalam maupun mancanegara,” jelasnya.
Dalam memperhatikan perajin batik Kota Palembang ini, beber dia, pihaknya bersama dengan tim Diperindag pusat melakukan upaya pembinaan, pelatihan dan pemberian motivasi agar perajin batik dapat lebih berinovasi dalam mengembangkan usaha batik ini lebih baik lagi. Dia mengaku pihaknya terus mengevaluasi kinerja perajin batik khas Palembang secara berkesinambungan.
Pelaku usaha yang memiliki keterbatasan dana pun juga dibantu, baik dari internal Diperindag maupun mencari dana pihak ketiga. “Dana yang dimiliki untuk membina perajin batik ini sangat terbatas. Kami harapkan keseriusan pelaku usaha untuk melakoni usaha batik ini sehingga kerajinan batik asli Palembangtidakpunah,” katanya.

Kental Nuansa Islam, Lambang Status Sosial
Meski memiliki motif dan gaya tersendiri, batik Palembang terlahir atas sentuhan budaya jawa yang masuk di masa Kerajaan Palembang. Kerajinan ini lama kelamaan mendapatkan tempat dan mengalami kemajuan pesat pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Tidak diketahui secara persis, kapan batik Palembang mulai ada di Palembang. Budayawan Yudhy Syarofie mengaku telah menelurusi berbagai literatur sejarah, namun tidak menemukan waktu pasti kapan seni yang diidentikkan dengan budaya jawa ini masuk ke Palembang. Dia hanya berani memperkirakan kerajinan ini muncul pada era berdirinya kerajaan Palembang, sekitar akhir tahun 1500 masehi. Sebab, saat itu terjadi kedekatan dan pertukaran antara kebudayaan melayu dan kebudayaan Jawa. “Diperkirakan masuknya unsur Jawa dalam kebudayaan Melayu dipengaruhi oleh Kerajaan Demak. Sebab, di era Kerajaan Palembang terjadi kedekatan dan pertukaran budaya termasuk batik,” terang Yudhy.
Dalam catatan sejarah kemunculan batik Palembang juga dilatarbelakangi kegiatan politik di masa itu. Sebab pada masa itu telah terjadi hubungan diplomatik antara Kerajaan Palembang dengan Kerajaan Mataram. Namun, saat Palembang direbut oleh VOC pada tahun 1659, Kerajaan Mataram tidak memberi bantuan pada Kerajaan Palembang meski kekuasaannya diserang. “Pada tahun 1663 masehi, Palembang yang dalam kekuasaan VOC sempat mengutus beberapa orang untuk mempelajari ideologi dan politik Jawa. Hingga terjadi serapan kebudayaan,” jelas pria yang telah menulurkan sejumlah karya sastra khas Sumsel ini.
Kentalnya perpaduan budaya pada masa ini, juga digambarkan dengan munculnya bebaso, bahasa “asli” Palembang yang beberapa kosakatanya diambil dari bahasa jawa dengan perpaduan bahasa melayu. Kentalnya unsur jawa juga terlihat dengan cara berpakaian masyarakat Palembang kala itu. Setelah mengalami sistem kerajaan, pemerintahan Palembang kemudian berganti menjadi kesultanan. Pada masa ini, penguasa Palembang kala itu, menempatkan diri sama rata dan sejajar dengan Kerajaan mataram, yang sebelumnya mengklaim berkuasa atas Palembang. “Sebelum berdiri Kesultanan, kerajaan Palembang saat itu disebut Patsal yang artinya bawahan Kerajaan Mataram di Jawa,” imbuh dia.
Akibat munculnya paradigma kesejajaran antara Kesultanan dengan Kerajaan Mataram, tradisi yang dahulunya tidak dikenal kemudian dipakai oleh Palembang dalam adatnya. Demikian juga dengan pemberian simbolsimbol bangsawan yang hampir sama dengan Kerajaan Mataram. Bahkan, pada masa itu juga lahirlah istilah Raden, yang digunakan bagi para ningrat atau pangeran dari keluarga Kesultanan. Pada masa kesultanan ini, keberadaan batik Palembang semakin kuat dan dikenal masyarakat. Bahkan pada masa ini, penggunaan batik juga disesuaikan dengan strata pemakainya. Batik yang digunakan oleh para ningrat, berbeda dengan batik yang digunakan oleh masyarakat biasa. Yudi menambahkan, pada masa tersebut Kesultanan Palembang identik dengan Islam sebagai agama negara. Seorang Sultan selain sebagai seorang kepala pemerintahan bagi rakyat, juga sekaligus Imam dalam hal keagamaan. Karena kekuatan dari Islam sebagai landasan agama turut juga mempengaruhi kebudayaan, salah satunya batik Palembang. Hingga terjadi perbedaan corak dengan batik jawa, dan corak khas tersebut identik dengan gambar flora dan tidak menggunakan gambar fauna atau hewani. “Islam sangat kuat salah satunya masyarakat dilarang melukiskan dan menggambar hewan. Karena itu motif batik Palembang semuanya flora. Meski ada pengaruh Cina dengan warna merah dan kuning atau cerah,” papar pria yang pernah menapaki karier di dunia jurnalistik ini.
Pada era kesultanan berkembang sejumlah motif batik khas Palembang seperti motif batik sumping, bungo dadar, bungo delimo, bebek pulang sore, bungo pacik, bungo cino,dan bungo tanjung. Bahan baku batik Palembang kebanyakan menggunakan kain sutera. Sementara bahan baku untuk membatik sama dengan bahan yang digunakan oleh Masyarakat Jawa. Perbedaannya, batik jawa menggunakan bahan kain Mori.
Untuk laki-laki batik tersebut banyak digunakan untuk Ketang Bekasem atau ikat kepala dengan motif kembang teh. Semantara motif bunga cempaka, srikaya, dan buah nona digunakan oleh keraton. Baru kemudian pada era Sultan Muhammad Baha’uddin, keraton mengatur soal pemakaian busana khusus bagi keraton. Busana para bangsawan adalah pakaian yang tidak digunakan masyarakat kebayakan pada masa itu.

Diproduksi Massal
Pasca keruntuhan Kesultanan palembang Darussalam dan beralih masa penjajahan Belanda, Batik Palembang sempat diproduksi secara massal. Dalam literatur sejarah dan fotografi di masa kolonial dan keresidenan Palembang, sempat beberapa kali dilaksanakan pameran keliling batik Palembang di wilayah Hindia Belanda. “Salah satunya foto pameran batik busana Palembang yang masih dapat disaksikan yakni di Surabaya tahun 1925. Sayangnya, produksi massal batik Palembang itu berhenti sejak tahun 1950,”ujar dia.
Berhentinya industri batik Palembang itu terjadi lantaran kurangnya regenerasi seniman batik di Palembang. Selain itu, mahalnya bahan baku sutera membuat produksi batik menjadi terhambat. Selain itu kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih modern seiring masuknya fashion dari barat di era tahun 50-an.***sindo/infokito.
***disadur dari sejumlah tulisan retno palupi, darfian jaya suprana, muhammad uzair di harian sindo

SUMATERA EKSPRES
Jumat, 05 November 2010 00:14
Mengenai proses pembuatannya, kata Anis, sedikit berbeda dengan batik Jawa. Di Palembang, kain yang akan dibatik dibentangkan dengan kencang menggunakan ram persegi panjang. Setelah itu baru dilukis atau dicap.
“Batik yang dicap akan kelihatan berbeda bila dilihat,” tukasnya. Sedangkan batik yang dilukis akan kelihatan sama antara luar dan dalam. "Kalau di Jawa, pelukisan batik tidak dibentang dan sambil dipegang," ungkapnya lagi. Lanjutnya, Dian Pelangi sudah mematenkan beberapa hasil batik modifikasi. Yakni, jumputan limar, batik blongsong, batik lukis, abstrak, geribik batik, batik songket dan songket pelangi. "Kita sudah mengurusnya bersama Disperindagkop Sumsel sejak 26 Januari 2010 lalu agar tidak ada yang meniru," katanya. Soal perawatan kain batik, ia memberikan beberapa tip. Sarannya, jangan mencuci menggunakan detergen, namun sebaiknya dicuci dengan sabun mandi, shampo dan silki. Kain batik tersebut, sebaiknya tidak disikat melainkan hanya dikucek saja. "Dan penjemuran jangan langsung mengenai sinar matahari, melainkan kering karena angin," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar