SRIWIJAYA
POST
Sriwijaya
Post - Senin, 19 April 2010 20:01 WIB
DIAKUINYA batik sebagai warisan budaya dunia
tak ternilai oleh UNESCO pada 2 Oktober tahun 2009 lalu, ternyata belum mampu
mengangkat Batik Palembang. Padahal Batik Palembang memiliki motif dan corak
warna yang berbeda dengan batik-batik dari daerah lain seperti Pekalongan atau
Cirebon.
Tak sulit menemukan pengrajin Batik Palembang. Salah satu
lokasi pengrajin batik ada di Jalan Aiptu Wahab atau sekitar 500 meter dari
Jembatan Ogan. Pusat pengrajin diberinama Indra Jaya tak hanya Batik Palembang,
juga kain Prada Palembang.
Risnawati,
pemilik menuturkan, Batik Palembang merupakan salah satu batik yang ada di
Indonesia. Kesulitan Palembang Darussalam ikut menyumbangkan motif khas yang
saat ini masih eksis dan diburuh para pemilik.
Batik Palembang mempunyai berbagai motif seperti Jeperi,
Baku, Jukung, Babar Emas, Kerak motong, Lasem, Sisik Ikan, Gribik, Encim,
Kembang Akung, dan masih banyak lagi. Bahan yang digunakan hanya sutra organdi
dan sutra, bukan katun seperti kebanyakan batik yang dijual di pasar-pasar.
Batik Palembang, bukan batik tulis, melainkan cap. “Kami tidak bisa membatik di
kain kantun seperti dilakukan pengrajin di Jawa. Salah satu faktor sulitnya
Batik Palembang diproduksi massal dan bersaing dengan batik dari Jawa,” tutur
Risnawati. Rusnawati melanjutkan usaha keluarga sejak 10 tahun lalu. Padahal
harga batik yang ditawarkan Risnawati tidak terlalu mahal. Untuk satu stel
terdiri dari sarung, selendang dan baju harganya Rp 200.000 hingga Rp 250.000
dari bahan sutra organdi. Produksi Indra Jaya untuk memasok toko-toko kain di
Pasar 16 Ilir Baru Komplek Ilir Barat Permai (IBP). Hasil kerajinannya ini
tidak hanya dijual di rumah sendiri juga untuk mengisi toko-toko di Pasar 16
Ilir baru. Ia hanya mempunyai 5-8 pekerja, itu pun tergantung banyak pesanan
dari pedagang. Ia belajar belajar membatik di pulau Jawa saat itu departemen
perdagangan, Industri dan UKM membawa dirinya belajar membatik. Berbekal ilmu
yang didapatnya itu lah, Rusnawati mulai belajar membatik, sedangkan motif dan
cetakan batik Palembang diperolehnya dari dinas terkait. Perbedaan batik
Palembang dengan batik daerah lain terletak pada pewarnaan dan motif. Warna
batik palembang lebih banyak terinspirasi warna kain songket. Warna merah yang
mendominasi. “Batik Palembang itu belum bisa menyamai batik-batik Jawa. Lihat
saja di pasar-pasar. Pengrajin batik Palembang juga sedikit. Sebenarnya bukan
kita tidak tidak dapat bersaing, tapi terkendala modal. Kita juga kesulitan
mendapatkan bahan baku katun. Seperti saya ini belum bisa membuat batik di kantun
begitu juga untuk pewarnaan,” katanya. Sripo.
SEWET BATIK PALEMBANG :
Selain kain-kain yang tersebut, sewet
pelangi dan jumputan, sewet peradan, ada juga kain batik. Batik
Palembang mempunyai ciri khusus dengan motif yang halus dan warnanya yang
magis. Sewet Batik Palembang yang terkenal adalah Sewet Batik Jepri dan Batik
Lasem.
Batik
Palembang Terancam Punah
Sunday, 27 March 2011
Sungguh ironis, ketika negara lain
mengakui batik sebagai salah satu karya seni terindah milik Indonesia,
keberadaan batik Palembang justru diambang kepunahan. Saat ini, batik yang
muncul sejak era kerajaan Palembang ini semakin langka.
Batik Palembang yang diperkirakan
sudah ada sejak 300 silam, mulai menghilang sekitar tahun 1950-an. Sejak masa
itu batik khas Palembang yang memiliki sekitar 17 motif ini tidak menjadi
perhatian. Terbukti, batik khas Palembang hampir tidak bisa ditemui di
sentra-sentra produksi kerajinan khas Palembang lainnya seperti songket dan
jumputan.
Jenis batik tulis khas Palembang ini
hanya berupa koleksi beberapa tokoh Palembang ataupun desainer lokal. Padahal,
batik khas Palembang ini kaya akan motif. Seperti motif batik jeperi, bakung,
jukung, babar emas, babar kecubung, daun teh, sumping, bungo dadar, bungo
delimo, bebek pulang sore, bungo pacik, bungo cino, bungo tanjung dan lainnya.
Kepunahan batik Palembang semakin dipercepat dengan semakin sedikitnya jumlah
perajinnya. Meski konon, walau tak ada perajin yang mampu membuat batik tulis
asli, masih ada perajin yang memiliki pelat (pencetak motif) batik asli.
Sayangnya lagi, dari pelat ini pun, batik khas Palembang dahulu sempat dicetak
atau dibuat di Pekalongan - lantaran tak bisa diproduksi di Palembang - jumlah
juga sangat terbatas.
Jika dibandingkan dengan familiarnya
batik khas Jawa yang beraneka ragam, sebenarnya batik khas Palembang dapat saja
menjadi eksis asalkan ada kemauan semua pihak baik pemerintah maupun
masyarakat. Sebab kita tahu, batik Pekalongan, batik Yogyakarta, maupun batik
Solo saat ini sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan internasional. Mengapa?
Karena kesenian batik ini tak hanya terus diproduksi di daerah asalnya saja,
melainkan keseriusan semua pihak memang nampak. Terlihat, batik menjadi tren di
dunia fashion dan banyak diincar oleh para designer. “Saya cukup prihatin
dengan warisan budaya kerajinan batik tulis (canting) Palembang sangat langka
dan bisa dibilang tak tak ada perajinnya,” ujar Sultan Palembang Sri Baginda
Iskandar Mahmud Badaruddin kepada harian SINDO (26/3).
Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin
mengaku ternyata memiliki cukup banyak koleksi batik asli Palembang yang
sengaja disimpan dan digunakan pada kegiatan-kegiatan besar. Sebab, menurut
dia, dengan menggunakan pakaian adat ciri khas Palembang sama dengan mengangkat
derajat Palembang dengan kekayaan budayanya. Sultan menyatakan, berbagai upaya
harus segera dilakukan terkait hampir punahnya batik asli Palembang. Upaya
pelestarian itu dapat dilakukan atas keseriusan bersama, baik masyarakat,
perajin dan sudah pasti pemerintah. Sebab, batik asli palembang layak untuk
dipertahankan, agar kerajinan khas yang seharusnya menjadi kebanggan ini tetap
dikenal dan dicintai masyarakat Palembang khususnya. “Sebenarnya batik asli
Palembang bisa saja kembali berjaya, asalkan tadi, semua pihak mengambil peran.
Apalagi, batik Palembang memiliki kekhasan yang menonjol, mulai dari motif yang
halus dan warna yang indah, yang dominan memiliki motif bunga atau flora,
seperti batik Jepri dan batik Lasem,” terangnya. Sultan menuturkan, perajin
Palembang pun bisa kembali mengasah keahliannya dengan mendalami pembuatan
batik asli Palembang berbagai motif. Syaratnya, para perajin harus dibekali
pendidikan dan pelatihan yang diupayakan oleh pemerintah Palembang dan Sumsel.
Siswa sekolah di Palembang bisa diajak dan diajari untuk membuat batik, seperti
ajakan membuat kain jumputan yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. “Kita
harus mensinkronisasi kebudayaan kesultanan Palembang Darusalam yang memiliki
histories terkait hasil warisan budaya batik dari para leluhur. Meskipun
dimodernisasi, batik Palembang ini nantinya harus tetap memiliki khasanah
keaslian dan kekhasannya. Kalau pun ada modifikasi, jangan melupakan
keasliannya,” bebernya.
Dahulu, sambung Sultan, desainer
songket dan batik Mir Senen (almarhum) masih menyimpan koleksi batik sebagai peninggalan
Kerajaan Palembang pasca keruntuhan Kerajaan Sriwijaya di galerinya. “Batik ini
sangat elegan dan indah. Apalagi, pewarnaan didominasi merah dan emas pengaruh
budaya Cina. Pada masanya, hanya digunakan kaum borjuis atau keluarga kerajaan
menghadiri pesta pernikahan. Tapi, batik ini telah digunakan berbagai pihak
sesuai dengan keputusan Presiden SBY,” terangnya.
Untuk itu, Sultan berharap,
pemerintah ataupun pejabat lainnya tidak melupakan kebudayaan asli daerah. Dia
meminta, para pejabat hanya mementingkan kunjungan-kunjungan ke luar, sementara
kepentingan lokal terutama di bidang kesenian dan kebudayaan malah terabaikan.
“Pejabat kita sepatutnya tidak kebanyakan kunker, seharusnya urusan dalam
negeri atau daerah terkait budaya harus ditingkatkan. Selain itu,
promosi-promosi kekayaan budaya asli daerah jangan dilupakan, termasuk jika ke
daerah lain bahkan ke luar negeri sekalipun harus bisa mengangkat nama daerah,”
pungkasnya.
Pekerja seni Palembang, Suharno menilai, keberadaan
batik Palembang masih bisa diselamatkan. Sebab menurut dia, teknik membatik
Palembang sama dengan masyarakat Jawa, sehingga tidak sulit untuk membuatnya.
Yang membedakannya hanya corak dan warnanya saja. “Seperti halnya songket yang
banyak menggunakan benang emas, batik juga menggunakan warna merah, kuning dan
beberapa corak warna cerah. Mungkin sangat identik dengan Cina yang telah masuk
dalam kebudayaan Palembang sejak dahulu,” ungkap dia.
Koleksi batik Palembang sempat
disimpan oleh almarhum Gatmyr Senen (Mir Senen) di galeri miliknya. Koleksinya
pun terbilang cukup langka, antara lain, batik motif bungo kenango bagian
atasan merupakan kain panjang yang dililitkan melingkari dada sampai perut.
Selain itu juga ada Batik Sebagi yang konon digunakan bangsawan untuk menghadiri
acara pernikahan kerabat kekeratonan.
Istimewanya, motif batik sebagi
nyaris tidak bisa ditiru karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi. Mir
Senen juga memiliki sebanyak 16 koleksi kayu cetakan motif batik sebagi yang
dibuat dari kayu. Nilai historis dan seninya disebut-sebut lebih tinggi dari
sejumlah motif batik Jawa yang dicetak pakai tembaga. Meseum Bala Putra Dewa
juga menyimpan koleksi kayu itu.
Perajin Harus Terus Dibina
Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang
meminta kepada dinas yang menangani pembinaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) untuk berusaha meningkatkan jumlah perajin batik khas Palembang. “Kita
sadari selama ini pamor perajin batik Palembang tidak begitu eksis di
tengah-tengah publik. Perajin batik harus betul-betul dibina ,diawasi, dan
diberikan motivasi agar keberadaan batik Palembang tidak pudar,” kata
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang H. Husni Thamrin kemarin (26/3).
Dia menilai kelangsungan usaha batik Palembang ini
dapat terus bertahan sepanjang masa jika kerajinan khas batik benar-benar
dijalankan secara maksimal dan penuh tanggungjawab. Bahkan, kata dia, perajin
lama dapat menularkan ilmu keterampilannya itu kepada kaum muda. Dengan adanya
regenerasi perajin batik dimungkinkan kelestarian batik khas Palembang dapat terjaga.
“Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)
Kota Palembang harus bekerja keras dalam upaya membina, mengawasi dan
memberikan pelatihan keterampilan kepada calon pelaku UMKM batik ini sehingga
keberadaan perajin khas batik dapat dilestarikan,” katanya. Permasalahan ini,
kata dia, sebenarnya memerlukan peran serta semua pihak, termasuk masyarakat
Palembang untuk melestarikan kerajinan batik Palembang. Masyarakat, lanjut dia,
bisa memulai usaha ini dari rumah ke rumah atas referensi dari perajin yang
sudah berpengalaman.
“Pelaku usaha ini harus terus
diberikan pelatihan secara kontinyu sehingga benar-benar menguasai apa yang
ditekuni. Tinggal keseriusan dari pelaku usaha menjalankannya. Semua usia bisa
menjalankannya, baik tua, remaja maupun dewasa,” tandasnya. Kepala Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata, Baharuddin Ali mengklaim pihaknya tidak bisa berbuat
banyak mengingat masalah itu merupakan tanggung jawab dan kewenangan penuh dari
Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag). “Masalah kerajinan batik
bukan wewenang kami dan sepenuhnya tanggungjawab Disperindag Kota,” katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Industri,
Disperindag Kota Palembang Rosidi Idrus menyatakan pihaknya telah berupaya
semaksimal mungkin untuk melestarikan khasanah khas Palembang akan kerajinan
batik khas Palembang ini. “Setiap 10 hari sekali, kami memantau perkembangan
keterampilan pelaku usaha. Bukan saja terfokus pada usaha batik Palembang saja,
melainkan pula keterampilan lain seperti songket maupun blongsong,” ujarnya.
Dia mengaku memang keberadaan
perajin batik khas Palembang ini terbilang sedikit dan dapat dihitung dengan
jari. Perajin batik Kota Palembang hanya berjumlah 10 yang berada di daerah
Tuan Kentang dan kawasan Gede Ing Syuro. Kendatipun berjumlah sedikit, kata dia,
namun pihaknya tidak begitu mengkhawatirkan akan terjadi kepunahan atas
kerajinan batik asli Kota Palembang ini. “Sampai saat ini kami terus berupaya
untuk mencari regenerasi perajin batik ini. Mulai dari pemuda, anak putus
sekolah, Ibu Rumah Tangga (IRT) dilibatkan menjadi pelaku usaha batik sehingga
ke depan dimungkinkan kuantitas perajin batik dapat diandalkan, baik di dalam
maupun mancanegara,” jelasnya.
Dalam memperhatikan perajin batik
Kota Palembang ini, beber dia, pihaknya bersama dengan tim Diperindag pusat
melakukan upaya pembinaan, pelatihan dan pemberian motivasi agar perajin batik
dapat lebih berinovasi dalam mengembangkan usaha batik ini lebih baik lagi. Dia
mengaku pihaknya terus mengevaluasi kinerja perajin batik khas Palembang secara
berkesinambungan.
Pelaku usaha yang memiliki
keterbatasan dana pun juga dibantu, baik dari internal Diperindag maupun
mencari dana pihak ketiga. “Dana yang dimiliki untuk membina perajin batik ini
sangat terbatas. Kami harapkan keseriusan pelaku usaha untuk melakoni usaha
batik ini sehingga kerajinan batik asli Palembangtidakpunah,” katanya.
Kental Nuansa Islam, Lambang Status
Sosial
Meski memiliki motif dan gaya
tersendiri, batik Palembang terlahir atas sentuhan budaya jawa yang masuk di
masa Kerajaan Palembang. Kerajinan ini lama kelamaan mendapatkan tempat dan
mengalami kemajuan pesat pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Tidak diketahui secara persis, kapan
batik Palembang mulai ada di Palembang. Budayawan Yudhy Syarofie mengaku telah
menelurusi berbagai literatur sejarah, namun tidak menemukan waktu pasti kapan
seni yang diidentikkan dengan budaya jawa ini masuk ke Palembang. Dia hanya
berani memperkirakan kerajinan ini muncul pada era berdirinya kerajaan
Palembang, sekitar akhir tahun 1500 masehi. Sebab, saat itu terjadi kedekatan
dan pertukaran antara kebudayaan melayu dan kebudayaan Jawa. “Diperkirakan
masuknya unsur Jawa dalam kebudayaan Melayu dipengaruhi oleh Kerajaan Demak.
Sebab, di era Kerajaan Palembang terjadi kedekatan dan pertukaran budaya termasuk
batik,” terang Yudhy.
Dalam catatan sejarah kemunculan
batik Palembang juga dilatarbelakangi kegiatan politik di masa itu. Sebab pada
masa itu telah terjadi hubungan diplomatik antara Kerajaan Palembang dengan
Kerajaan Mataram. Namun, saat Palembang direbut oleh VOC pada tahun 1659,
Kerajaan Mataram tidak memberi bantuan pada Kerajaan Palembang meski
kekuasaannya diserang. “Pada tahun 1663 masehi, Palembang yang dalam kekuasaan
VOC sempat mengutus beberapa orang untuk mempelajari ideologi dan politik Jawa.
Hingga terjadi serapan kebudayaan,” jelas pria yang telah menulurkan sejumlah
karya sastra khas Sumsel ini.
Kentalnya perpaduan budaya pada masa
ini, juga digambarkan dengan munculnya bebaso, bahasa “asli” Palembang yang
beberapa kosakatanya diambil dari bahasa jawa dengan perpaduan bahasa melayu.
Kentalnya unsur jawa juga terlihat dengan cara berpakaian masyarakat Palembang
kala itu. Setelah mengalami sistem kerajaan, pemerintahan Palembang kemudian
berganti menjadi kesultanan. Pada masa ini, penguasa Palembang kala itu,
menempatkan diri sama rata dan sejajar dengan Kerajaan mataram, yang sebelumnya
mengklaim berkuasa atas Palembang. “Sebelum berdiri Kesultanan, kerajaan
Palembang saat itu disebut Patsal yang artinya bawahan Kerajaan Mataram di
Jawa,” imbuh dia.
Akibat munculnya paradigma
kesejajaran antara Kesultanan dengan Kerajaan Mataram, tradisi yang dahulunya
tidak dikenal kemudian dipakai oleh Palembang dalam adatnya. Demikian juga
dengan pemberian simbolsimbol bangsawan yang hampir sama dengan Kerajaan
Mataram. Bahkan, pada masa itu juga lahirlah istilah Raden, yang digunakan bagi
para ningrat atau pangeran dari keluarga Kesultanan. Pada masa kesultanan ini,
keberadaan batik Palembang semakin kuat dan dikenal masyarakat. Bahkan pada masa
ini, penggunaan batik juga disesuaikan dengan strata pemakainya. Batik yang
digunakan oleh para ningrat, berbeda dengan batik yang digunakan oleh
masyarakat biasa. Yudi menambahkan, pada masa tersebut Kesultanan Palembang
identik dengan Islam sebagai agama negara. Seorang Sultan selain sebagai
seorang kepala pemerintahan bagi rakyat, juga sekaligus Imam dalam hal
keagamaan. Karena kekuatan dari Islam sebagai landasan agama turut juga
mempengaruhi kebudayaan, salah satunya batik Palembang. Hingga terjadi perbedaan
corak dengan batik jawa, dan corak khas tersebut identik dengan gambar flora
dan tidak menggunakan gambar fauna atau hewani. “Islam sangat kuat salah
satunya masyarakat dilarang melukiskan dan menggambar hewan. Karena itu motif
batik Palembang semuanya flora. Meski ada pengaruh Cina dengan warna merah dan
kuning atau cerah,” papar pria yang pernah menapaki karier di dunia jurnalistik
ini.
Pada era kesultanan berkembang
sejumlah motif batik khas Palembang seperti motif batik sumping, bungo dadar,
bungo delimo, bebek pulang sore, bungo pacik, bungo cino,dan bungo tanjung.
Bahan baku batik Palembang kebanyakan menggunakan kain sutera. Sementara bahan
baku untuk membatik sama dengan bahan yang digunakan oleh Masyarakat Jawa.
Perbedaannya, batik jawa menggunakan bahan kain Mori.
Untuk laki-laki batik tersebut
banyak digunakan untuk Ketang Bekasem atau ikat kepala dengan motif kembang
teh. Semantara motif bunga cempaka, srikaya, dan buah nona digunakan oleh
keraton. Baru kemudian pada era Sultan Muhammad Baha’uddin, keraton mengatur
soal pemakaian busana khusus bagi keraton. Busana para bangsawan adalah pakaian
yang tidak digunakan masyarakat kebayakan pada masa itu.
Diproduksi Massal
Diproduksi Massal
Pasca keruntuhan Kesultanan
palembang Darussalam dan beralih masa penjajahan Belanda, Batik Palembang
sempat diproduksi secara massal. Dalam literatur sejarah dan fotografi di masa
kolonial dan keresidenan Palembang, sempat beberapa kali dilaksanakan pameran
keliling batik Palembang di wilayah Hindia Belanda. “Salah satunya foto pameran
batik busana Palembang yang masih dapat disaksikan yakni di Surabaya tahun
1925. Sayangnya, produksi massal batik Palembang itu berhenti sejak tahun
1950,”ujar dia.
Berhentinya industri batik Palembang itu terjadi lantaran kurangnya regenerasi seniman batik di Palembang. Selain itu, mahalnya bahan baku sutera membuat produksi batik menjadi terhambat. Selain itu kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih modern seiring masuknya fashion dari barat di era tahun 50-an.***sindo/infokito.
Berhentinya industri batik Palembang itu terjadi lantaran kurangnya regenerasi seniman batik di Palembang. Selain itu, mahalnya bahan baku sutera membuat produksi batik menjadi terhambat. Selain itu kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih modern seiring masuknya fashion dari barat di era tahun 50-an.***sindo/infokito.
***disadur dari sejumlah tulisan retno palupi, darfian
jaya suprana, muhammad uzair di harian sindo
SUMATERA
EKSPRES
Jumat, 05 November 2010 00:14
Mengenai proses pembuatannya, kata Anis,
sedikit berbeda dengan batik Jawa. Di Palembang, kain yang akan dibatik dibentangkan
dengan kencang menggunakan ram persegi panjang. Setelah itu baru dilukis atau
dicap.
“Batik yang dicap akan kelihatan berbeda
bila dilihat,” tukasnya. Sedangkan batik yang dilukis akan kelihatan sama
antara luar dan dalam. "Kalau di Jawa, pelukisan batik tidak dibentang dan
sambil dipegang," ungkapnya lagi. Lanjutnya, Dian Pelangi sudah mematenkan
beberapa hasil batik modifikasi. Yakni, jumputan limar, batik blongsong, batik
lukis, abstrak, geribik batik, batik songket dan songket pelangi. "Kita
sudah mengurusnya bersama Disperindagkop Sumsel sejak 26 Januari 2010 lalu agar
tidak ada yang meniru," katanya. Soal perawatan kain batik, ia memberikan
beberapa tip. Sarannya, jangan mencuci menggunakan detergen, namun sebaiknya
dicuci dengan sabun mandi, shampo dan silki. Kain batik tersebut, sebaiknya
tidak disikat melainkan hanya dikucek saja. "Dan penjemuran jangan
langsung mengenai sinar matahari, melainkan kering karena angin,"
jelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar